Ulasan Film First Man: Monoton dan Membosankan!

Ulasan Film First Man: Monoton dan Membosankan!

Tivan Rahmat | 10 Oct 2018

GANLOB.COM – Sejarah mencatat bahwa Neil Armstrong merupakan orang pertama yang menginjakkan kaki di bulan. Namun, Universal Pictures berusaha mengangkat sisi lain dari kehidupan sang astronaut ke layar lebar dengan judul First Man.

Sebelum menontonnya secara langsung, ekspektasi saya terhadap film ini begitu tinggi. Terlebih, para pemain dan kru di belakang layar merupakan sosok besar yang menjadi langganan nominasi Oscar dalam beberapa tahun terakhir.

Di kursi sutradara, ada Damien Chazelle yang menyita perhatian dunia ketika filmnya, Whiplash, masuk sebagai nominator Academy Awards 2014. Sedangkan film La La Land yang ia besut meraih banyak gelar di Piala Oscar 2016.

Harapan saya terhadap film ini juga kian melambung ketika mengetahui aktor Ryan Gosling menjadi pemeran Neil Armstrong. Artinya, film First Man menjadi kali kedua bagi Ryan dan Chazelle terlibat dalam sebuah proyek film setelah La La Land yang ‘meledak’ dua tahun lalu. Sementara aktor dan aktris pendukung lainnya terbilang bukan kacangan. Sebut saja Claire Foy (The Girl in The Spider’s Web), Kyle Chandler (Manchester by The Sea), dan Corey Stoll (Ant-Man).

Namun, ekspektasi saya perlahan sirna ketika durasi 2 jam 21 menit ini diisi oleh pendekatan drama yang mengisahkan perjalanan hidup sang astronaut dalam satu dekade. Terlalu mononton dan membosankan ketika sebuah film memaksa penontonnya menyaksikan sebuah alur cerita drama, namun ‘kosong’ karena tidak bisa menyentuh emosi penontonnya.

Memang, ada beberapa adegan menegangkan ketika Neil berada di dalam pesawat luar angkasa. Sayang, eksekusi visualnya berantakan karena kebanyakan menampilkan sudut pandang dari dalam pesawat yang sempit dan gelap. Padahal, adegan ini bisa saja memicu adrenalin penonton seandainya tim visual First Man mengambil angle dari luar pesawat, atau mendramatisirnya dengan bantuan efek visual (CGI).

Masih dalam permasalahan visual, sang sutradara mengambil sudut pandang kecemasan dan ketakutan Neil sebagai dasar gerak kameranya. Maka ketika Neil berada dalam roket, penonton digiring untuk merasakan semacam klaustrophobia karena sempitnya area kokpit pesawat.

Tak hanya di situ, dalam gerak sehari-hari pun, kamera nyaris tak pernah diam stabil. Apalagi ketika Neil berlatih di simulator. Kamera ikut berputar-putar bersama Neil. Bagi saya, adegan tersebut sedikit memusingkan kepala.

Membuat sebuah film biopik memang punya tantangan tersendiri bagi orang yang terlibat di dalamnya. Sejarah tentang Neil Armstrong sudah masuk dalam kurikulum akademik, sehingga sebenarnya skenario yang dibutuhkan pun tidak perlu terlalu rumit. Sedangkan sutradara ditantang untuk mencari cara lain agar filmnya tetap bisa membuat penonton duduk betah.

Beruntung, faktor audio memenuhi harapan saya sebagai seorang penonton.  Berlatar sebagai sutradara dengan akar musikal, Damien menggarap serius efek suara di beberapa adegan. Di tengah-tengah kebisingan dunia luar, suara tiba-tiba hilang karena hanyut dalam emosi yang dialami Neil, terutama kala dia menjadi manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan.

Tapi secara keseluruhan, film First Man cenderung menjenuhkan dan membosankan karena alur cerita yang monoton dan bertele-tele.


KOMENTAR
BERITA LAINNYA